Archive for July, 2007
Paket udah dateng
Etnic Loop scarf

Pesta kawinan
Sun Shine baby dress

Overlap Coaster by Lenny
Cutie Syal
Alhamdulillah, akhirnya selesai juga syal pesenan Dian. Aku pakai 2,5 gulung benang ini. Aku pakai motif ini dan memodifikasikan modelnya. Sebenarnya ini motif utk vest. Ini project paling lama yg kubuat karna beberapa kendala.
Comments are off for this postCutie Syal
Crochet Basic Stitches (from CrochetCabana)
Having you…
Having you… as a special friend
is the best gift I’ve got 12 years ago
Having you… as my husband
is the best blessed from God I’ve got
from 7 years ago and for the next days I have
Having you… here by my side
is the best birthday gift I will ever have forever
that I’ve almost may loose you at that night
Having you… here by my side
to love me
to accompany me
to hug me…
is the best thing for me … always, now and forever
Happy birthday to me, 70070729
Comments are off for this postSyukuran Tobucil Baru
Agus Rakasiwi (ketua AJIB) dan saya memberi sambutan sebelum acara syukuran di mulaifoto oleh bram
Foto-foto syukuran dapat di lihat di phot album:
http://tobucil.multiply.com
***
21 Juli lalu, tobucil & klabs mengadakan syukuran kecil untuk tempat barunya di jalan Aceh 56 Bandung. Selain syukuran ini juga sekaligus peresmian sekretariat Aliansi Jurnalis Independen Kota Bandung yang sejak awal berdiri punya keterkaitan sejarah dengan keberadaan tobucil. Meskipun sederhana, syukuran kemarin terasa akrab dan hangat. Banyak teman-teman hadir untuk ikut berhagia bagi tobucil & klabs, meski banyak pula yang tidak dapat hadir karena waktunya bentrok
dengan aktivitas lain.
Terima kasih untuk semua teman-teman yang telah hadir (yang tak bisa disebutkan satu persatu). Terima kasih atas dukungan dan supportnya pada tobucil. Yang cukup membuat saya terkejut adalah kehadiran mas Farid Gaban, jurnalis idola saya yang hadir sehari setelah syukuran tobucil bersama rekan saya Asep Syaefulah dari Pena Indonesia. Rasanya seperti kopi darat setelah mengudara bertahun-tahun. Selama ini saya dan mas Farid berkomunikasi hanya lewat email. Kehadiran mas Farid juga sekalian untuk membuka kerjasama Pena Indonesia, AJIB dan tobucil untuk membuat sekolah jurnalistik dan penulisan di Bandung. (tarlen) Comments are off for this post
Scarf kecil motif Drop Stitch
There Is A Joy And Happy In My Life
There Is A Joy & Happy In My Life
1. Ketemu temen-temen lama yang dah gak ketemu belasan tahun. Karna kecanggihan teknologi membuat dunia semakin sempit.
2. Dapat Free Ticket dari Blogfam.
3. Teman-teman seperjuangan yang sidang skripsi (Firman, Novi, Unggul, Ahmad, Aris) akhirnya lulus. Congratulation guys.
4. Pesanan Dian dah selesai, hasilnya insya Allah diposting hari Senin.
5. Back to Benang dan Hook (rajutan).
6. Saatnya melanjutkan misi masa depan.
Comments are off for this post
Syal & topi buat para bocah
Pinky girl

Comments are off for this post
Rekor baru nih
Ikut Pindahan
Ceritanya belahan jiwa saya pindah rumah…, karena setia saya ikutan pindah ![]()
Mulai kemarin, kita pindah “rumah” …, lahan untuk bedeng kami sudah terasa sesak sehingga kami pindah kemari. Kebetulan saya dapat kavling khusus dari yayang … kavling khususnya jadi my earlier b-day present
hihihi… jadi hadiah tanggal 24 aja Yang ![]()
Jadi mulai sekarang silakan bertamu ke rumah baru Corat - Coret saya di yuliazmi.com dan silakan mampir juga ke Catatan -nya Yayang di riyogarta.com. Bedeng kami akan tetap digunakan sesuai dengan filosofi kami saat memilih nama bedeng…, memulai sesuatu yang akan besar dan berguna… membuat tunas-tunas baru ![]()
I’m one today!
Balik ke kandang….
Ketika ultah tak lagi penting
Rok Ameera
Hat, Bandana and Scarf
Too busy these days.... So I must take a good rest this weekend. Nothing much to do just made a simple cake for watched some interesting programs in television (like Indonesian Idol, football game, and formula 1 racing) and saw some films with my hubby and son. Take a hook and thread too ... :) Malaikatkah Ia?
Malaikatkah Ia
Pulang gawe langsung meluncur ke kampus. Sampe kampus ada Firman sama Beta. Tampangnya Firman bener-bener kek orang linglung. Saat kita bertiga ngobrol di depan kampus, tiba-tiba datang seorang kakek berusia sekitar 75 tahun. Di usianya yang sudah sesenja itu, tubuhnya masih sehat dan segar dengan raut wajah yang begitu bersih dan tulus.
Kakek: Maap dek, numpang tanya. Kalo Tangerang masih jauh gak?"
Firman: Emangnya kakek mau kemana?
Beta : Kek, kalo Tangerang di depan juga dah masuk Tangerang.
Aku : Tangerangnya mana kek?
Kakek : Saya mau ke Pandeglang.
Firman, Beta, Aku: Pandeglang??? Wow jauh b... Comments are off for this post
I hang my needle for a while….
Cable Sun Glasses Case – book Project
Pink Doily – for book project
Belanja benang lagi
Madrasah Falsafah Sophia di Tobucil
Jangan bayangkan bahwa berfalsah kening harus berkerut dan pandai mengutip kata si ini kata si itu. Saat kita memikirkan bagaimana memaknai hidup ini, tanpa kita sadari kita tengah berfalsafah dalam hidup kita sendiri. Akan lebih menyenangkan jika kemudian kita bertemu banyak teman yang bisa kita ajak bertukar pikiran. Jangan ragu untuk gabung di Madrasah falsafah ya..
****
MADRASAH FALSAFAH SOPHIA
“BERFILSAFAT DARI KEHIDUPAN SEHARI-HARI”
--dalam dialog Socrates, setiap jawaban memunculkan pertanyaan; sedang dalam dialog resmi ilmiah setiap pertanyaan menghasilkan jawaban.
Socrates menjadikan kehidupan sehari-hari sebagai dasar dan tujuan kegiatan berfilsafat. Tidak ada istilah yang ruwet dalam kegiatan berfilsafat a la Socrates. Semua orang bisa melakukannya.
I. Mengapa Jalan a la Socrates yang Ditempuh?
1. Semua orang memiliki dunia kehidupannya. Dunia kehidupan ini belum tentu telah dijalani dengan baik sehingga menghasilkan kebahagiaan yang tulus. Bisa saja dunia kehidupan itu dilakukan dengan terpaksa atau menuruti kebiasaan orang kebanyakan. Dengan merunut pada kebiasaan awam semisal itu, bisa dipastikan tidak dapat menghasilkan kebahagiaan. Inti dialog adalah melahirkan kesadaran hidup baik dari diri sendiri dan kawan bicara. Bagaimana orang harus hidup merupakan urusan semua orang, karena itu dialog dengan tujuan hidup baik penting bagi siapapun.
2. Semua orang memiliki kegelisahan akan kehidupan yang terus-menerus dibayangi kegelisahan atau ketidakpuasan. Namun ketidakpuasan ini jarang terungkap, seringkali kita menganggapnya sebagai gejala kejiwaan yang biasa-biasa saja. Jadi tak pernah dipersoalkan. Lama kelamaan ketidakpuasan itu terus menumpuk dan menghasilkan kesadaran palsu, kita jadi teramat pemarah tanpa alasan yang jelas atau menjadi sangat pemalas. Kita jadi pemarah karena ketidakpuasan yang telah menumpuk itu tak menemukan cara pembebasannya, ia terkurung dan ingin diekspresikan. Namun sekianlama tidak dibahasakan membuat kesadaran itu menjadi sulit dipahami. Pada saat itu yang muncul adalah emosi-emosi yang tak juntrung sebabnya. Demikianpun dengan rasa malas, biasanya rasa malas bermula dari keputusasaan: karena hidup selalu tidak memuaskan maka tak perlu lagi ada usaha. Dialog model Socrates merupakan pembebasan.
3. Semua orang memiliki pertanyaan terhadap dunia kehidupannya. Juga memiliki sejumlah gagasan dan impian mengenai bagaimana cara hidup yang bahagia. Metode Socrates membutuhkan kejujuran terhadap apa yang dialami, dipikirkan dan dilakukan untuk dikemukakan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan dan rumusan-rumusan sederhana. Metode Socrates tidak membutuhkan pertanyaan yang ruwet atau jawaban yang ilmiah. Pertanyaan/jawaban yang baik adalah pertanyaan/jawaban yang berasal dari pengalaman kehidupan. Pertanyaan/jawaban yang berdasar teori merupakan kebiasaan kaum sofis, ini ditentang oleh Socrates.
4. Saat ini kita sebenarnya hidup di tengah kerumunan ”masyarakat Sofis”. Ada banyak barang yang kita gunakan bukan berdasar kebutuhan kita terhadap barang tersebut, namun karena kemasan iklan yang merayu secara cerdik. Misalnya, karena di kepala kita sudah tertanam bahwa “hanya yang ilmiah sajalah yang benar, hanya yang telah diuji di laboratium sajalah yang benar” maka kita tertarik untuk membeli detergen tertentu setelah melihat iklan yang sedemikian ilmiah. Ingat ungkapan Kaum Sofis, “kebenaran atau kesalahan tergantung pada pengolahan kata-kata”. Seluruh iklan itu pada dasarnya cara pengolahan barang agar terkesan lebih berkualitas ketimbang barang lain yang sejenis, walaupun belum tentu demikian.
II. Bagaimana Cara Melakukan Dialog a la Socrates?
Untuk kepentingan MADRASAH FALSAFAH buku karya Christopher Philips, yang berjudul Socrates Café, dapat dijadikan rujukan utama. Christopher Philips mengajak kita semua untuk mengaplikasikan kembali metode Socrates dalam kehidupan sehari-hari. Mengenai metode ini Philips menuliskan:
1. Metode Socrates bisa disebut sebgai metode elenchus, artinya penyelidikan atau uji silang. Melalui penyelidikan seseorang secara jujur memeriksa kesadaran yang dimilikinya dan melihat konskeunsi yang dihasilkan dari kesadaran itu. Jika ternyata konsekuensinya mengarah pada ketidakbahagiaan, keyakinan itu harus dirumuskan kembali.
2. Dialog Socrates meminta kita untuk secara rela memeriksa seluruh kebenaran yang selama ini kita yakini, juga segala hal-hal yang selama ini dianggap remeh.
3. Dialog Socrates menegaskan bahwa kearifan tidak bisa dilakukan sendirian. Dibutuhkan kawan dialog (bukan lawan) untuk setiap pencarian kebahagiaan. Kawan dialog ini secara kritis terus memberikan pandangan lain dari dalam dirinya. Pandangan lain itu bisa berbentuk hipotesis, keyakinan, dugaan atau teori-teori yang ditawarkan kawan dialog; kesemuanya menjadi cermin bagi seluruh keyakinan kita. Seluruh ketidaksetujuan dan penentangan merupakan cermin yang sangat dibutuhkan agar kita bisa berkaca dan menemukan cacat dari kesadaran yang selama ini dianggap telah sempurna.
4. Untuk bisa mencapai dialog model Socrates dibutuhkan kejujuran dari semua peserta dialog. Melalui kejujuran orang akan sering memeriksa keyakinannya sendiri, karena kejujuran akan mengatakan bahwa “saya tahu bahwa saya tak tahu” atau “saya sadar bahwa keyakinanku bisa salah kaprah”. Kejujuran pula yang membuat kita bisa berdialog dengan rendah hati; kita bisa menerima dengan tulus apa pun yang dikemukakan orang lain walaupun berbeda atau bertentangan dengan kepercayaan kita sendiri.
Socratesisasi Kelompok
1. Buatlah kelompok dialog, yang secara sukarela mau mengobrolkan persoalan-persoalan keseharian dan keyakinan secara terbuka.
2. Mulailah dengan tema-tema sederhana, misalnya tentang rumah, pacaran, kerja, tetangga, belajar, dll.
3. Buatlah dengan pertanyaan-pertanyaan, seperti: apa maksudnya? Siapa yang setuju dan siapa yang menentang hal itu? Adakah cara-cara lain untuk memikirkannya, yang lebih masuk akal dan lebih dapat untuk terus dipertanggungjawabkan? Seluruh pertanyaan diupayakan untuk terus-menerus menggali konsekuensi-konsekuensi gagasan tertentu dan kemudian menawarkan alternatif dan keberatan yang menantang.
4. Seluruh sanggahan, rumusan, pertanyaan, dan komentar peserta dialog sangat berharga. Jadi tak ada satupun yang dianggap remeh, semuanya berharga bagi perbaikan kesadaran masing-masing peserta dialog.
5. Jika dialog tersebut tidak menyentuh kesadaran kita, tidak menyusahkan secara mental dan spiritual tidak menantang dan membingungkan dengan cara yang indah dan menggairahkan, dialog tersebut bukanlah dialog Socrates.
Socratesisasi Individual
1. Jika tidak bisa memiliki kelompok, mulailah menyiapkan mental untuk selalu membuka diri terhadap pelbagai macam pengalaman orang lain. Bisa dilakukan dengan cara berdialog langsung dengan orang-orang di sekitar kita, atau dengan membaca buku, menikmati karya seni dan lainnya.
2. Pengalaman orang lain (siapapun dia, apapun derajat sosialnya, apapun agamanya) dianggap sebagai cara pandang alternatif yang bisa jadi berguna bagi perbaikan kesadaran kita. Hanya saja, agar kita tidak mudah terpengaruh oleh pelbagai pandangan yang berbeda kita harus terus-menerus kritis. Kita harus menanyakan alasan apa yang mendukung atau menentang masing-masing pandangan yang berbeda itu.
3. Socratisasi secara individual sebenarnya lebih susah, namun bukan tak mungkin dilakukan. Salah satu sebabnya adalah kita harus terlebih dahulu memeriksa kesadaran-kesadaran yang selama ini diyakini, lalu memilih salah satunya untuk diperbincangkan dengan pengalaman orang lain. Berbeda jika dalam kelompok, kita bisa mendapatkan bahan pembicaraan dari peserta dialog, bahan-bahan yang semua dianggap remeh tetapi kemudian disadari sebagai hal yang penting untuk diperiksa kembali. Untuk mengatasi kesulitan itu, lakukanlah dialog secara santai (tidak memaksakan tema yang telah disediakan). Biarkanlah arah dialog melaju ke wilayah yang tak terduga, asalkan menghasilkan kesadaran baru.
4. Kejujuran, keterbukaan, berpikir rasional dan daya imajinasi sangat dibutuhkan dalam seluruh proses dialog. Kejujuran dan keterbukaan mengantarkan kita untuk menghargai semua kebedaan dan perbendaan. Berpikir rasional menjaga kita dari kepercayaan tanpa alasan. Sedangkan daya imajinasi membuat kita bisa menghubungkan apa-apa yang dibicarakan orang lain dengan apa yang kita bicarakan dan kita lakukan.
Contoh Dialog a la Socrates, Petikan Dialog dari Buku Socrates Café:
(percakapan antara Philips dan seorang dokter)
“Anda berasal dari mana?”
“Saya tinggal di Roma selama bertahun-tahun. Saya seorang dokter anak di sana. Tetapi saya tidak menganggap tempat itu sebagai rumah saya”.
“Apakah Anda berasal dari Jerman?”
“Dalam arti tertentu, ya. Saya dilahirkan di sana. Tetapi saya rasa dalam kenyataannya saya tidak pernah benar-benar memiliki rumah. Saya tidak yakin apakah yang disebut rumah itu memang ada”.
Rumah tidak ada? Saya tidak mendesak agar ia menjelaskan pernyataanya saat itu juga karena sudah saatnya Café Socrates dimulai. Ruang tempat kami berkumpul bersifat informal, hampir seperti di rumah sendiri. Ruang itu bermeja antik berbentuk bundar, dengan taplak kain berwarna putih cerah dan kursi-kursi berbantal yang nyaman.
“Apa itu rumah?” Saya bertanya kepada sekitar tiga puluh peserta atau lebih yang ada di ruangan itu, sambil bertukar pandang dengan wanita yang berbicara dengan saya tadi. Pada saat yang bersamaan ia tersenyum dan mengerutkan dahi padaku.
Wanita yang duduk persis di sebelahnya, sebut saja “Mildred” berkata, “Saya akan mengatakan pada anda apa yang bukan rumah itu?”. Sambil menepukkan tangannya pada kursi tempat ia duduk, ia lalu mengatakan dengan penuh perasaan, “Tempat ini bukan rumah saya, satu-satunya alasan mengapa saya di sini adalah bahwa anak-anak saya membuang saya ke sini. Saya ingin berada di tempat lain di manapun kecuali di sini.”. Kemudian ia sedikit mengenang masa lalunya di New York. Dengan kebanggaan yang sangat kentara itu, ia mengatakan bahwa ia pindah ke sana enam dekade yang lalu untuk menjadi seorang pekerja sosial. Hal itu bertentangan dengan harapan keluarganya, “saya meninggalkan rumah yang besar dan nyaman di Midwest atas pilihan saya sendiri dan membangun rumah baru untuk diri saya sendiri di Bronx”. Ia hampir kelihatan bersinar penuh kebanggaan ketika mengatakan hal itu. Lalu ekspresinya tampak meredup kembali. Ia memandang semua orang di dalam ruangan itu, “Tetapi saya tidak berada di sini karena pilihan saya sendiri. Maka, ini bukan rumah saya sendiri. Rumah adalah tempat yang anda pilih untuk hidup”.
Alex : Sangat sedikit di antara kita yang memiliki kemewahan untuk memilih di mana kita hidup. Saya hidup di tempat di mana saya dapat menemukan pekerjaan dan menyediakan rumah yang nyaman bagi istri dan anak-anak saya.
Anne : “Rumah adalah tempat di mana anda tidur. Tempat ini adalah tempat di mana saya tidur. Tempat ini adalah rumah saya.”
Lalu Mildred berteriak, “Berapa orang di antara anda yang merasa bahwa tempat ini adalah rumah anda?”
Hanya tiga orang yang mengacungkan tangannya, dan mereka melakukannya dengan ragu-ragu. “Saya harus mengakui bahwa saya terkejut karena sedikit sekali di antara anda yang menganggap tempat ini sebagai rumah anda,” kata Anne.
“Tempat ini adalah salah satu rumah saya, “ ujar Susan (wanita berambut abu-abu cerah terurai sebatas punggung), “saya juga masih punya rumah di Florida”.
“Apakah anda tinggal di rumah-rumah itu secara bergantian,” tanya saya.
“Tidak sih, tetapi saya tidak pernah merencanakan untuk menjualnya. Selama saya memiliki rumah itu, saya merasa bahwa saya masih memiliki rumah di sana”, Susan berhenti sejenak. “Bagaimana dengan ungkapan ‘buatlah diri anda kerasan seperti di rumah sendiri?” Hal itu membuat saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri, ‘Dimanakah saya dapat kerasan seperti di rumah sendiri? Sekalipun saya telah tinggal di sini selama beberapa tahun, tempat ini masih saja terasa sebagai bangunan tempat tinggal semata. Di sini saya masih merasa seperti ketika dulu saya pertama kali pindah ke rumah saya di Florida. Bulan pertama saya tinggal di sana, rumah tersebut masih semata-mata merupakan bangunan tempat tinggal. Diperlukan waktu beberapa lama untuk menjadikan bangunan itu sebuah rumah – tidak hanya bangunan rumahnya namun keseluruhan tempat itu. tapi akhirnya rumah tersebut lebih dari sekadar rumah –rumah tersebut menjadi tempat saya belajar masak, di mana saya menjalin persahabatan yang langgeng dengan beberapa teman, di mana saya jatuh cinta”. Ia berhenti sejenak, menghela nafas, “saya pikir, pada akhirnya saya akan memandang tempat itu sebagai rumah, tetapi saya belum akan memandangnya demikian. Tempat itu masih merupakan sekadar bangunan tempat tinggal”.
“Bagaimana sebuah bangunan rumah dapat benar-benar menjadi benar-benar rumah?” tanya saya, memancing.
Robert, seorang peserta yang sinis, berkata, “saya kira pertama-tama anda harus tinggal di sana. Bahkan jika ada tempat lain yang mungkin lebih anda sukai, jika anda sudah memilih
*** Comments are off for this post
Capelet part 2 in progress

Comments are off for this post

