Rajut Merajut

Kumpulan blog mereka yang suka merajut ;)

Archive for August, 2007

Flower motif in my doilies





Flower motif is one of my favourite. I always inspire with this motif. Pinky doily in three colours mix, wrapper doily in blending thread ( have an order), oval doily in cotton no.20. They have a different size, large for oval doily, medium for pinky doily and small for wrapper doily ( only 22 cm ).... :).

After this I want to make a centerpiece/table cloth again cause need this for a gift :) Have a nice weekend for all of you. Comments are off for this post

Crafty Days Let’s Get Crafty


Crafty Days - Let's Get Crafty
8-9 september 2007

tobucil + klabs, jl. aceh 56 bandung (dekat hero jl. aceh) bandung,
tlp: 022-4261548

menampilkan :
- craft + book fair
- demo
- workshop
- gathering komunitas hobi
- knitting
- crochet
- fancy card
- manik-manik
- lampu
- handmade t-shirt
- patchwork
- sulam pita
- accecoris
- frame
- lampion
- knitting yarn
- book fair bersama : omuniuum, lawang buku, tobucil
- reading corner bersama koleksi mama dino (koleksi buku dinosaurus)

craft + book fair mulai pk: 09.00 - 18.00
workshop mulai pk : 13.00 - 18.00
gathering mulai pk : 15.00 - 19.00

crafty days featuring : martina, yulia + ella, ochie, della/audi,
bengkel kreasi 19, esti, reading lights, poppie, rezza adrian, budi
adi nugroho, belinda jasmin, ririe, tipi, the men who craft, omuniuum,
lawang buku, tobucil, mama dino

for more info : www.tobucil. blogspot. com or call 022-4261548


Untuk keterangan lebih jelas, silahkan klik gambar di atas.
Jangan lupa dateng dan bergembira bersama di crafty days ya teman-teman...:) Comments are off for this post

Tamu-tamu di Klab Puisi


Pertemuan klab puisi, Jumat, 31 Agustus 2007, tampak berbeda dari biasanya. Beberapa orang teman dari jauh tampak hadir memeriahkan suasana. Ada teman-teman dari Purwakarta dan juga Ketua AJI Kediri_Mas Dwijo dan ketua AJI Medan_ Deddy ikut bergabung dalam pertemuan Klab Puisi sore itu. Kunjungan kedua ketua AJI kota ini sebenarnya dalam rangka kunjungan ke AJI kota Bandung dan AJI Indonesia yang pada tgl 1 - 2 September 2007 ini menyelenggarakan Pelatihan Jurnalisme Sadar Konflik, di Bandung. Mas Dwijo dan Deddy, antusias bergabung di pertemuan klab puisi sore itu, mereka berbagi cerita tentang kondisi komunitas puisi dan sastra di kota masing-masing. Setelah acara sharing pengalaman, beberapa partisipan membacakan puisi karyanya masing-masing untuk di apresiasi bersama. Meski nampak beberapa orang sibuk menyimak pertemuan ini sambil berhotspot ria. (Foto & teks oleh tarlen) Comments are off for this post

Bocoran Benang Rajutan Baru untuk Katalog Bulan September



Siap-siap buat para rajut mania, koleksi benang baru untuk rajutan akan segera hadir di katalog bulan September. Comments are off for this post

Prof. Mikihiro Moriyama di Tobucil




Foto-foto diskusi tentang Daya Hidup Bahasa Sunda di Era Poskolonial, Prof. Mikihiro Moriyama bersama partisipan diskusi dalam suasana santai. Foto by tarlen

Hasil diskusi akan di update pada postingan berikutnya

Tulisan tentang Profil Mikihiro Moriyama di, Suplemen Kampus Pikiran Rakyat, 30 Agustus 2007

Mikihito Moriyama
Tetap Ingin Jaga Tradisi

"Walaupun saya nanti di rumah jompo, saya tidak akan merasa kesepian. Karena sepanjang hayat saya harus terus belajar."

SENYUM yang memperlihatkan sedikit susunan gigi yang rapi kerap mengembang. Cara bicaranya santun dengan logat bahasa Sunda yang fasih. Orang pun kerap terheran-heran dengan kemampuan dari kawan dosen yang lahir di Kyoto, Jepang, pada 16 September 1960 itu.

Dia, Mikihiro Moriyama, merupakan seorang profesor pada bidang kajian Indonesia di Departemen Asian, Fakultas Studi Luar Negeri, Universitas Nanzan, Jepang. Keahliannya pada kajian sastra dan budaya Sunda.

Tahun 2005, ia membuat kalangan budayawan dan intelektual lokal mulai banyak memperbincangkan dirinya. Sebuah disertasi yang disusun selama 13 tahun berubah menjadi buku yang banyak mengundang diskursus. Buku itu berjudul "Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad Ke-19" yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia.

"Saya hampir bosan menyusun buku itu," katanya bergurau.

Buku itu adalah buku ketujuh selama perjalanan hidup Miki. Buku tentang Sunda lainnya, misalnya, buku berjudul Sundanese Conversation (Sunda-go Kaiwa in Japanese). Selain tentang kesundaan, ia pun jatuh cinta pada karya seniman Putu Wijaya. Pada tahun 1998, mengalihbahasakan karya Putu berjudul Telegram ke bahasa Jepang.

Karya-karya itu tidak akan muncul jika cita-cita kecilnya menjadi pegawai di kantor swasta perdagangan atau menjadi diplomat diteruskan. Jika saja ia tidak bertemu budayawan Sunda, Ajip Rosidi, di salah satu kelasnya, mungkin Miki membuat karya lain.

Tinggal di kampung

Miki, pemuda desa dari Ayabe. Ayahnya adalah seorang pekerja kantor pemerintah. Ia menyebut pekerjaan di kantor pemerintahan sebagai pekerjaan yang statis dan tidak berkembang. Miki muda tidak ingin seperti itu. Ia ingin bekerja di kantor perdagangan swasta agar bisa naik pangkat.

Ia ingin keluar negeri, tetapi masih di kawasan Asia. Ia mencari negeri dengan pelajaran bahasa yang mudah dipahami. Lantas pilihan pun jatuh pada pengajaran bahasa Indonesia.

"Kawan-kawan di sana menyebut aneh. Kenapa saya pilih Indonesia?" tutur Miki.

Wajar pertanyaan itu muncul. Sejak Restorasi Meiji, Jepang sudah bercita-cita setara dengan negeri-negeri Barat dan ingin menjadi nomor satu di Asia. Oleh karena itu, banyak anak muda Jepang yang belajar ke Eropa dan Amerika Serikat. Jika ada pilihan yang tidak pada kedua wilayah itu, maka akan disebut aneh.

Namun, Miki tidak menggubris pendapat itu. Menurutnya, perjalanan ke negeri yang tidak pernah tersentuh seperti Indonesia merupakan tantangan. Tantangan itu akan membawa pada berkah pengetahuan dan pelajaran yang berlimpah. Untuk itu, ia masuk Department of Indonesian, Osaka University of Foreign Studies.

Tahun 1980, Miki pergi melihat negeri yang tak pernah dilihatnya. Modal uang 200 ribu yen hasil kerja sambilan sebagai pemandu wisata, satpam, pedagang buah di supermarket sampai guru privat.

"Tahun 1980-an, saya jalan-jalan sebulan ke Bali, Tana Toraja, Yogyakarta, sampai Bandung. Dan, saya hanya sendirian di pesawat Singapore Airlines menuju Indonesia," ujarnya mengenang.

Kembali ke Jepang, ia bertemu dengan Ajip Rosidi yang mengajar di salah satu kelasnya. Identitas Sunda yang melekat pada diri budayawan itu memberi inspirasi untuk mengenal tentang Sunda lebih dalam. Melalui dorongan (alm) Prof. Kenji Tsuchiya, ia memilih Universitas Padjadjaran (Unpad) sebagai awal membuka tabir budaya Sunda. Di kampus ini ia mendapat bimbingan dari tokoh Sunda ternama (alm) Edi S. Ekadjati.

"Saya melihat sosok Ajip Rosidi (budayawan Sunda). Integritasnya terhadap budaya Sunda memberi inspirasi kepada saya untuk mencari tahu lebih banyak tentang Sunda," ujar Miki pada Kampus saat berbincang di teras kamar penginapannya yang asri, Jumat (24/8),

Modal beasiswa Rp 75 ribu per bulan, ia manfaatkan benar. Kuliahnya dijalani seminggu sekali, Miki lebih banyak mencari seniman, budayawan, dan wartawan yang memahami budaya dan bahasa Sunda. Bahkan, ia rajin ikut rombongan tari jaipongan sampai ke pelosok Jawa Barat.

Tidak cukup bergaul di Kota Bandung, Miki memilih tinggal di kampung bernama Wanayasa, Purwakarta, Jawa Barat. Selama 6 bulan ia belajar bahasa Sunda, adat istiadat, sampai mengaji setelah magrib. Apakah pindah agama? Tidak, ia belajar untuk mengetahui budaya masyarakat lokal.

Dari Wanayasa, ia ke Cianjur sampai ke Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya. Dari sana ia bisa belajar menghayati kehidupan manusia dengan alam sekitarnya. Menghargai alam sebagai tempat hidup yang mesti dijaga keseimbangannya dan dijauhkan dari pengeksploitasian berlebihan. Hubungan manusia yang tidak berlandaskan kepentingan sesaat, tetapi corak kebersamaan dan toleransi sebagai individu untuk saling membantu.

Hal itu ia tidak dapatkan jika berada di kota besar. Antara kota dengan desa seperti dua negara yang berbeda. Kesederhanaan desa dengan glamor kota merupakan dua wilayah kontras yang kasat mata. Akan tetapi, ia tidak menyembunyikan bahwa kekuasaan uang pun larut di ibu kota kabupaten yang dekat dengan kota besar.

**

MIKI duduk tegap di kursi nomor dua dari belakang. Pembawaannya tenang, tetapi tidak lepas memandang tiap wajah anak-anak kelas V di SD Negeri Soka, Bandung, Jawa Barat. Senyumnya tak pernah lepas menghias wajahnya ketika anak-anak balas memerhatikannya.

Belakangan ini, dia sering datang ke sekolah-sekolah dasar dan menengah. Ia mengamati metode pengajaran bahasa Sunda di sekolah sekaligus mencari tahu bahasa pengantar anak-anak jika berada di rumahnya. Data-data ini untuk persiapan bukunya yang terbaru tentang bahasa Sunda.

Namun, ada hal lain yang ia perhatikan. Di Indonesia, anak-anak belajar ilmu pengetahuan seimbang dengan pengetahuan agamanya, terkhusus Islam. Hal yang berbeda di Jepang yang lebih mengutamakan ilmu pengetahuan dibanding agama.

Sains mengejar kebenaran, tetapi sebenarnya manusia tidak bisa mencapai kebenaran itu sendiri. Menurutnya, absolutisme kebenaran hanyalah milik pemilik jagat raya ini. Namun, tidak semua orang menyadari akan hal itu sebagaimana Miki alami sendiri di negeri lain.

Manusia, katanya, hanya bisa mendekati kebenaran itu sendiri. Manusia bisa menyadari hal ini ketika kebutuhan akan rohaninya terpenuhi. Keseimbangan antara kapasitas intelegensia dan spiritual mendorong manusia tidak ambisius, baik dalam hal materi atau apa pun. Keseimbangan akan mendatangkan kebahagiaan.

"Saya suka dengan orang Sunda di kampung karena mereka tidak ambisius. Mereka tidak menonjolkan diri mereka walaupun mereka memiliki kemampuan untuk tampil," tuturnya.

Di panti jompo

Ia mengaku, ilmu kesederhanaan dan perpaduan sains dengan agama yang ia peroleh selama penelitiannya memberi perubahan pada dirinya. Saat ini ia lebih sering bertanya bahwa dirinya terus bertanya tentang bagaimanakah manusia hidup?

Pertanyaan-pertanyaan itu lantas ia jawab dengan menekuni bidang akademis. Menurutnya, menjadi peneliti merupakan langkah untuk menjawab pertanyaan itu. Peneliti akan berjalan mendekati kebenaran dan terus mengujinya. Ruang pekerjaan akademis tidak akan terganggu oleh waktu usia menjelang tua. Walaupun nanti tinggal di panti jompo, proses menjawab pertanyaan tadi akan terus bergulir.

Sebagai akademisi, Miki tetap punya fokus yang ingin ia teruskan. Demi menjawab pertanyaan tentang makna kehidupan dirinya, eksistensinya dirasa berguna untuk mengulas tentang budaya literasi Sunda.

"Yang saya cari ilmu dan kebenaran. Dalam dua tahun, kenapa dagang tidak penting dan tidak menarik, saya ingin kembalikan apa yang saya telah peroleh dari masyarakat Sunda," katanya.

Lantas, apakah Miki mau menjadi warga negara Indonesia? "Tidak," jawabnya.

Pasalnya, sebagai anak sulung Miki punya tanggung jawab terhadap warisan nenek moyang di desanya, seperti sawah, hutan, dan makam. Termasuk tanggung jawab sebagai warga desa untuk membantu membersihkan desa setiap bulan.

Miki tetap memegang paspor Jepang, tetapi bukan berarti kehidupannya terbatas di satu tempat. Ia masih ingin berkelana untuk menjawab pertanyaannya. Hal yang bisa membawanya diam di tempat adalah tugasnya sebagai pemegang nilai tradisi nenek moyangnya.***

agus rakasiwi
kampus_pr@yahoo.com

Comments are off for this post

Madrasah Falsafah Agustus: Dari Anak Perempuan Bapak sampai Hidup Normal

Foto dan review oleh tarlen

Pertemuan madrasah falsafah, setiap rabu rupanya tak pernah sepi peminat. Partisipannya pun beragam. Mulai dari mahasiswa, dosen, wartawan, pengangguran, pensiunan, guru. Tanggal 29 Agustus 2007 lalu, tema yang dibahas adalah 'Hidup Normal'. Seru karena ternyata batas antara normal dan tidak normal sangat tergantung darimana memandanganya. Di madrasah falsafah, semua partisipan bisa berbagi pengalaman hidupnya dan saling menarik pelajaran satu sama lain.



Sementara tema di minggu sebelumnya, 22 Agustus 2007, membahas hubungan 'Anak Perempuan dan Bapaknya'. Ada tiga orang bapak dari latar belakang yang berbeda hadir pada pertemuan kali ini: Pak Ismail, single parent yang membesarkan 3 orang anak perempuannya, punya hubungan khusus dengan anak-anaknya, sangat dekat bisa menjadi orang tua sekaligus sahabat; Pak Erik, bapak asal Amerika yang sudah lama tinggal di Bandung, punya anak perempuan berusia 17 tahun, hal yang menarik yang dia katakan di akhir pertemuan adalah: "Buat kalian anak perempuan, jangan segan untuk mengatakan apa yang kalian inginkan dari ayah kalian, karena sering kali mereka tidak tau apa yang kalian inginkan dari mereka." Sementara Pak Amrizal Salaya, seorang pematung mengaku terus terang, bahwa ia sering kali tidak tau bagaimana semestinya mengahadapi anak perempuannya. Baginya anak perempuannya seperti patung porselen, ia takut menghancurkannya.

Forum yang jarang terjadi, dimana para bapak-bapak ini bisa berterus terang tentang apa yang mereka rasakan dari hubungannya dengan anak-anak perempuan mereka, juga para partisipan yang sebagian adalah anak-anak perempuan bisa mengungkapkan harapan mereka dari seorang bapak.


Comments are off for this post

Cutie things in knitting


I have some yarn from mba Hernik (KL) . I think make a cutie things with this yarn'll look great. So I mix the yarn with my collection. And here they're....... a small purse for coints and a headband (bando). Hope you'll inspire :)
Comments are off for this post

Ketika Kata-Kata Melukai Hati

Comments are off for this post

KULIAH FILSAFAT ISLAM (Tingkat Dasar) ”Jalan-Jalan Menuju Islam, Jalan-jalan Penemuan Kemenangan Diri”

Madrasah Falsafah Sophia bersama Tobucil & Klabs menyelenggarakan Kuliah Filsafat Islam tingkat dasar.

TEMA:

”Jalan-Jalan Menuju Islam, Jalan-jalan Penemuan Kemenangan Diri”

PEMBICARA:
1. Bambang Q-Anees, dosen Filsafat dan Teologi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. *
2. Miftah Fauzi Rahmat*, Wakil kepala sekolah SMA Muthahhari, belajar Filsafat di Qum, Iran.
3. Dede Syarif, pejalan spiritual yang meyakini al-Quran dapat dibuktikan dalam wujud nyata, terukur, dan dapat dialami.
4. Saiful Karim*, pejalan spiritual dan menjadi koordinator pada Pesantren Misykatul Anwar, Bandung.
5. Munir A Muin, pengajar filsafat Agama dan Filsafat Islam di UIN SGD Bandung *
6. Hendariyadi, M.Ag, Pengajar Tafsir dan Hermeneutika al-Quran di UIN SGD Bandung

* dalam konfirmasi

WAKTU DAN TEMPAT
20 s/d 25 September 2007
Pk. 15.00 – 17.30 WIB
Tempat: Tobucil & Klabs
Jl. Aceh No. 56 Bandung Telp. 022 4261548

SASARAN KEGIATAN
Profesional, mahasiswa, peminat kajian Islam

BIAYA KEGIATAN
Biaya untuk mengikuti kuliah ini adalah Rp. 150.000/orang sudah termasuk materi kuliah, snack untuk buka puasa.

INFORMASI DAN PENDAFTARAN
Tobucil & Klabs
Jl. Aceh No. 56 Bandung
Telp. 022 4261548
tobucil@yahoo.com

MATERI PERKULIAHAN

1. Kamis, 20 September 2007

Jalan Iman: Tauhid sebagai Paradigma Hidup
Pemandu: Bambang Q-Anees

Tauhid bukan sekadar monoteisme, namun pandangan hidup yang mengkerangkai semua aspek. Dalam Tauhid dapat ditemukan prinsip bahwa penciptaan Tuhan adalah esa, tauhid menolak segala bentuk diskriminasi berdasarkan ras, warna kulit, kelas, garis keturunan, kekayaan, dan kekuasaan. Tahuid menempatkan manusia dalam kesamaan, menyatukan manusia dan alam sebagai kelengkapan penciptaan Tuhan. Keesaan Tuhan adalah keesaan kehidupan, yaitu tidak ada pemisahan antara spiritualitas dan keduniawian. Tauhid adalah jaringan relasional Islam, yaitu penyatuan seluruh aspek kehidupan dalam satu hukum, satu tujuan dalam Kehendak Allah. Tujuan tauhid adalah untuk menciptakan suatu saling hubungan yang sempurna antar manusia.
- Apa itu Tauhid?
- Memahami Iman, Islam, Ihsan
- Tauhid sebagai Paradigma Hidup
- Tauhid sebagai prinsip Relasional
- Tauhid dan Kesadaran Murni Manusia

2. Jumat, 21 September 2007
Jalan Membaca: Al-Quran sebagai Kitab yang Hidup
Pemandu: Dede Syarif

Islam adalah satu-satunya peradaban yang bertumpu, bersumber pada sebuah Buku Besar: al-Quran. Dari muara al-Quran, lahirlah sebuah peradaban yang menciptakan penemuan yang menakjubkan. Karena itu, Al-Quran bagi orang beriman adalah Kitab yang Hidup, ia terus menyertai kehidupan Manusia dan memberikan jawaban-jawaban atas masalah manusia (kapanpun dan dimanapun).
Bagaimana menjadikan al-Quran sebagai Kitab yang Hidup? Bagaimana mengaktifkan diri sehingga al-quran dapat berbicara pada diri kita? Menjadi materi utama dari sesi ini:
- Mengimani al-Quran sebagai Manual Book bagi Diri dan Kehidupan
- Beberapa Keajaiban al-Quran perspektif al-Quran Visual
- Membaca Diri melalui Ayat-ayat Al-Quran.

3. Sabtu, 22 September 2007
Jalan Ibadah: Pemahaman atas Syari’ah
Pemandu: Hendariyadi, M.Ag

Syari’ah selama ini dipahami sebagai merepotkan (harus shalat lima kali sehari, misalnya) dan menakutkan (hukum pancung, misalnya). Apakah betul begitu? Secara prinsip Syariah terkait erat dengan cita-cita mewujudkan kehendak ketuhanan dan membangun bumi serta memelihara keadilan di antara manusia. Karena terkorupsi oleh pemikiran Eropa yang memandang relasi Tuhan-Manusia sebagai Penindas-Ditindas, ibadah kerap dipahami dalam relasi pemaksaan ini. Dalam terang tauhid, ibadah adalah pemunculan kemurnian kehendak untuk mengikuti jalan Muhammad agar semakin mendekati Tuhan.
Materi ini mencoba membongkar aspek-aspek peribadatan dalam Islam dan hubungannya dengan prinsip tauhid.
- Kenapa Manusia harus ada Ibadah?
- Ibadah bukan sekadar ritualitas Fiqh
- Tujuan pewajiban ibadah (maqashid syar’iyah)
- Prinsip dan Kaidah Hukum Islam (Qaidah Ushul Fiqh)

4. Minggu, 23 September 2007
Jalan Pengetahuan: Epistemologi Islam
Pemandu: Munir A. Muin

Sejak awal perkembangannya, Filsafat Islam mencoba memberikan catatan dan kritik terhadap Filsafat Yunani. Bagi Filsafat Islam, pengetahuan dapat menyesatkan bila hanya bertumpu pada esensi. Filsafat Barat, sekian lama saat setelah dilahirkan, baru menyadari bahwa esensialisme menyebabkan manusia terpasung oleh pengetahuan dan mengalami apa yang disebut Heidegger sebagai ”Lupa-akan-ada”. Bagaimana Jalan Pengetahuan dalam Islam?
Materi ini mencoba menyajikan prinsip-prinsip dasar pengetahuan dalam Islam dan beberapa contoh sederhana epistemologi dalam Islam.
- Perbedaan Ilmu, Pengetahuan, dan Hikmah
- Cara Memperoleh Pengetahuan
- Esensialisme dan Eksistensialisme

5. Senin, 24 September 2007
Jalan Pengelolaan Diri: Filsafat Etika Islam
Pemandu: Miftah Fauzi Rahmat

Keberanian sebenarnya adalah satu tingkat di atas kepengecutan dan satu tingkat di bawah Kekalapan. Kedermawanan sebenarnya satu tingkat di atas kekikiran dan satu tingkat di bawah keborosan. Inilah yang disebut dengan prinsip etika ”Jalan Tengah”. Dalam prinsip ini, ibadah ritual yang berlebihan dianggap sebagai jalan yang melemparkan diri dari kesempurnaannya.
Bagaimana perilaku sehari-hari dikerangkai oleh tauhid dan syariat? Apa yang bisa dicapai dalam Jalan Pengelolaan Diri? Materi ini mencoba mengantarkan pemahaman kita tentang etika dan perilaku sehari-hari sebagai jalan menuju Islam.
- Prinsip-prinsip Pengendalian Diri
- Jalan Tengah sebagai Etika Tertinggi
- Menemukan Tuhan melalui Pengelolaan Diri

6. Selasa, 25 September 2007
Jalan Cinta: Spiritualisme dalam Islam
Pemandu: Saiful Karim

Cinta bukan sekadar erotisme dan sensualisme, cinta adalah jalan menuju Tuhan. Cinta adalah ekspresi terlembut dari ketaatan, cinta dapat dinyatakan pula sebagai prinsip terlembut dari prinsip relasional tauhid. Beberapa sufi menganggap cinta sebagai capaian terakhir dari tauhid, Ibn Arabi misalnya menyatakan bahwa ”Agamaku adalah agama Cinta, Aku akan turut kemanapun dia pergi”.
Bagaimana prinsip cinta dalam Islam? Apa hubungan antara cinta dengan ketaatan ibadah dan tauhid? Pada materi ini semuanya akan dibicarakan:
- Tauhid, Syariat, Tarikat, dan Cinta
- Cinta dan Tangga Spiritual
- Islam sebagai Agama Cinta Comments are off for this post

Old Treasure

Comments are off for this post

Paper Tole

Comments are off for this post

Purple hat for El Rika

Comments are off for this post

I am back

Comments are off for this post

Aksi Gokil 2 Penyiar Radio

Comments are off for this post

Shoulder Bag untuk Teh Atif

Ini hadiah untuk Teteh Atif yang Milad tgl 23 Agustus, Ine buatin shoulder bag paduan warna hijau pupus dan kuning muda karena Te Atif sukanya warna kuning. Happy Milad yaa Teh... moga Teh Atif tambah sholehah.

Bahan Dan Alat :
Yarn : Katun Lokal, color : hijau & kuning muda
Hook : Tulip No.2
Kain puring dan resleting warna senada benang kuning

Motif :
Bagian dasar/bawah di bentuk oval ukuran sesuai yg diinginkan ,jenis tusukannya sc benang warna kuning
Bagian tengah jenis tusukan ch dan dc yang membentuk motif V (V stitch), menggunakan kombinasi benang kuning dan hijau di gunakan bergantian pada rownya.
Bagian Atas terdiri dari tusukan sc menggunakan benang berwarna kuning, dan pada bagian ini dengan benag yang sama di tambahkan edge lace sebagai pemanis. Edge Lace ini bisa di posisikan ke atas atau kebawah, jadi ada dua variasi modelnya.
Untuk tali terdiri dari tusukan ch, sc dan dc yang membentuk motif V stitch dua row , satu row warna kuning muda dan satunya lagi warna hijau muda.
Comments are off for this post

Entrelac Baby Hat


Baby projects again and again. Cause my friends need it these days. Hats, socks, blanket, sweater, vest... its all in my wip projects. Hope I could finish them on schedule..:)

This one is a preemie hat with tunisian stiches. I make with entrelac (love this method), and used cotton thread. Not too difficult but it's look great.
Note :
Now I have a model for my baby projects, this is a doll when I was a little girl. My mother sent me from Jakarta. Thanks for keeping my doll mom. Its fit for baby size (1-3 months)...:) Comments are off for this post

Kisah di Bulan Agustus

Judulnya jadul banget :D iya nih mau posting banyak tapi kok kayaknya gak sempet. Yang jelas Agustus ini banyak ceritanya, juga banyak kerjaan yang belum selesai :(( Tapi yang jelas bulan ini masih selalu membantu dan menemani suami ke kantor :x , wiken kemarin paling seru lho :D

Bulan Agustus ini sesekali saya ke kampus dalam kegiatan sidang Tugas Akhir Mahasiswa dan kegiatan Rencana Studi mahasiswa bimbingan saya untuk semester depan. Yang terakhir minggu lalu saya menghadiri Rapat Dosen menjelang awal semester. Seperti biasa diacara tersebut diberikan doorprize, tapi kali ini saya gak kebagian tuh :d **hehehe, kalau saya kebagian lagi bisa-bisa diprotes temen-temen soalnya saya sudah dapat ini dan ini :D Oh ya pasca masa sidang sebenarnya ada refreshing-days buat para penguji dan pembimbing…, 3 hari ke Pulau Umang di wilayah Ujung Kulon, tentu saja saya TIDAK IKUT…, Yayangku tercinta kan masih butuh chaperon :)

(more…)

Comments are off for this post

Bros Anggrek

Comments are off for this post

Cattelya

Comments are off for this post

[Benang] Buy 10 Get 1 Free

Comments are off for this post

Tempat Tidur

Postingan kali ini mo cerita tentang 'tempat tidur'; bukan tempat tidur biasa melainkan hospital bed. Soalnya saya harus menyediakan tempat tidur untuk pasien yang akan kembali ke rumah dan di rawat di rumah oleh keluarganya. Keluarga pasien bingung tempat tidur... Comments are off for this post

Muffler

Noviblue Muffler buatan Novi, menghabiskan 4 gulung benang keriting besar dengan memakai hook 5/0 Dengan pola yang sama, Novicat Muffler, juga buatan Novi menghabiskan 2 gulung lebih benang keriting warna kecoklatan dengan hook 4/0. Ukuran muffler 14 x 150 Comments are off for this post

Belajar crochet

 

Novi pengen banget belajar crochet!

Jadi saya pikir belajar tuh kalo bisa langsung merasakan hasilnya. Ya gak sih???
Akhirnya diputuskan membuat muffler.

 

Ada sisa benang biru yang bergelombang.

Dulu saya membuat blue cape dengan benang ini. Masih ingat? Kalo lupa, liat deh dikoleksi photos saya!!

 

 

 

 

 

Kembali ke cerita Novi yang lagi belajar crochet.....


Ternyata lumayan cepet juga selesainya loh, untuk pemula yang disambi dengan kerja lain dan juga ada mainnya siyyyy.

Tiba2 di MP saya muncul TOBUCIL dan invite saya!! Loh ada benang juga ya disitu.??!!

Karena rumah deket... kesanalah saya pergi dan mendapatkan benang lucu namanya keriting:

Mirip siiyyy dengan yang biru.....
Cuma ini lebih tipis benangnya.

Dan warnanya itu loh yang bikin saya naksir!
Ada yang tau gak warna apa ini?

Tarlen..... apa nama warna benang ini??? Tolong kasih tau saya donk!!!

 

Hasil kerjaan Novi bisa dilihat di file 'photos' saya ya......

Selamat menikmati!!!!

... Comments are off for this post

Workshop Menulis Feature dan Artikel untuk Media

Download Flyer: Workshop Penulisan.pdf

Menulis Feature dan Artikel untuk Media

* Apa dan mengapa menulis media
* Feature dan artikel yang dibutuhkan media
* Jenis-jenis feature dan artikel
* Menggali ide dan mengumpulkan bahan
* Menulis ringkas, jelas dan bergaya
* Membangun motivasi menulis
* Metode Quantum Writing
* Creative Non-Fiction (teknik penulisan non fiksi kreatif)
* Jika otak buntu menulis


Workshop Intensif

* Maksimal peserta 20 orang per kelas
* Proyek akhir: peserta menulis karya jadi untuk dikirim ke media
* Total waktu belajar dan latihan 12 jam
* Waktu workshop 12 jam (2 hari)
* Sabtu dan minggu, 15-16 September 2007, mulai Pk. 9.00 - 16.00
* Biaya workshop Rp. 300.000

Tempat Workshop dan pendaftaran
Tobucil & Klabs
Jl. Aceh 56 Bandung
Telp. 022 4261548

Farid Gaban memulai karir jurnalistiknya sebagai wartawan Tempo Biro Bandung (1984). Meninggalkan kuliahnya tanpa lulus di Jurusan Planologi, ITB dan lebih memilih berkarir sebagai jurnalis. Sempat bekerja di Editor (1987-1990), Berita Buana "Manajemen Baru" (1990-1991), Republika, Tempo dan kini di kantor berita Pena Indonesia yang didirikannya.
Lebih jauh tentang Farid Gaban klik disini

Acara ini terselenggara atas sinergi:
Pena Indonesia, Aliansi Jurnalis Independen Kota Bandung, Tobucil & Klabs


Comments are off for this post

Agenda Madrasah Falsafah bulan September 2007

MADRASAH FALSAFAH SOPHIA
Mengundang Anda untuk Berbagi
Berfilsafat dari Kehidupan Sehari-hari

Setiap Rabu, Jam 5 Sore.
di Tobucil & Klabs
Jl. Aceh 56 Bandung 40113
Tlp/Fax: +62 22 4261548

Bahan Obrolan:
Agustus 2007
(1) 1/8/07: Hati (2) 8/8/07: Retak (3) 15/8/07: Cinta& Persahabatan
(4) 22/8/07: Girls Talk (5) 29/8/07: Hidup Normal.

September 2007
(1) 5/9/07: Bahasa Ibu (2) 12/9/07: Moment Berharga
(3) 19/9/07: Spiritualitas Maaf (4) 26/9/07: Mudik.

Salam,
Rosihan Fahmi (Ami)
Pengelola Madrasah Falsafah Sophia Bandung



Comments are off for this post

Penaklukan Bahasa: Daya Hidup Bahasa Sunda di Era Pos Kolonial

Sabtu, 25 Agustus 2007, Pk. 15.00
Tempat: Tobucil & Klabs
Jl. Aceh No. 56 Bandung

Bersama:
Mikihiro Moriyama (Profesor di Jurusan Studi Asia, Universitas Nazan, Nagoya, Jepang)

Moderator: Bambang Q-Anees

Tak jarang timbul salah paham terhadap studi Mikihiro Moriyama yang dibukukan dalam buku berjudul Semangat Baru (edisi bahasa Indonesia) terutama di kalangan orang-orang Sunda sendiri----atau mungkin lebih tepat jika dikatakan bahwa studi Moriyama itu sesungguhnya membuka suatu bahan perdebatan yang sangat penting perihal formasi bahasa dan sastra Sunda, khususnya dalam konteks tatanan kehidupan pada zaman kolonial. Oleh karena studi Moriyama beranjak dari kebijakan pemerintah kolonial di Jawa Barat sehubungan dengan bahasa dan sastra Sunda, dan memanfaatkan kekayaan dokumen dan literatur dari 'zaman Belanda' (baik dari Perputakaan KITLV maupun dari Universitet Bibliotheek di Leiden, dll.), sebagian pembaca buku tersebut akan mudah beranggapan bahwa studi Moriyama masih meneruskan kecenderungan Eropa sentris dalam ilmu-ilmu sosial tentang Indonesia, sebagaimana anggapan yang dikemukakan bahkan oleh Dr Edi S Ekadjati, salah seorang promotor disertasi Moriyama di Leiden yang menulis kata pengantar untuk edisi bahasa Indonesia dari buku tersebut. Selain itu, anggapan keliru yang sangat simplistik di kalangan pembaca buku tersebut, yakni anggapan yang seakan-akan melihat bahasa dan sastra Sunda merupakan 'ciptaan Belanda'. Anggapan keliru yang disebutkan belakangan ini terutama cenderung ditekankan oleh komentator yang hendak mempersoalkan 'orisinalitas' bahasa dan sastra Sunda itu sendiri.

Kenyataan historis yang menunjukkan bahwa sebelum kolonialisme Belanda merasuk ke Tatar Sunda, masyarakat Sunda dan bahasanya sendiri sudah ada, jelas tidak bisa dipungkiri. Dalam hal bahasa, misalnya, bahkan sebelum para peneliti, sarjana dan pemerintah Belanda yang dikaji oleh Moriyama memastikan bahwa memang ada yang disebut 'bahasa Sunda', orang Inggris yang bernama Jonathan Rigg pada 1862 telah mempublikasikan 'A Dictionary of Sunda Language of Java'. Demikian pula jika kita meninjau lebih jauh ke belakang, jelas bahwa jauh-jauh hari sebelum kedatangan Belanda, di Tatar Sunda sudah berkembang tradisi lisan berupa 'carita pantun', dan tradisi tertulis berupa sejumlah manuskrip tua dari abad ke-16. Dalam hal ini, kita perlu mencatat (sekali lagi) bahwa studi Moriyama itu tidak beranjak dari zaman 'carita pantun' atau 'naskah buhun', melainkan dari awal terbentuknya tatanan politik kolonial Belanda hingga menjelang berdirinya Commisie voor Volkslektur (yang kelak dikenal dengan nama Balai Poestaka itu). Dalam kaitan inilah, berdasarkan studi Moriyama, kita bisa mengatakan bahwa modernisasi bahasa dan sastra Sunda beserta segala implikasi dan konsekuensinya jelas tidak bisa dilepaskan dari dampak-dampak kolonialisme Belanda di Indonesia, khususnya pada abad ke-19.

(Pengantar ini di kutip dari email yang dikirimkan Hawe Setiawan kepada Heru Hikayat untuk kepentingan acara ini) Comments are off for this post

Langkanya Sebuah Keadilan

Comments are off for this post

Pelatihan Critical Discourse Analysis (CDA)

Download flyer (Critical Discourse Analysis Workshop.pdf)

Salah satu ragam riset yang berkembang pesat dalam studi komunikasi berfokus pada kajian media. Tidak lagi berkutat pada analisis isi dan kajian kuantitatif, riset media kini merambah pendekatan-pendekatan baru yang diperkaya lewat kontribusi paradigma-paradigma mutakhir dalam kajian komunikasi. Salah satu ragam kajian yang berkembang adalah Analisis Wacana Kritis, atau Critical Discourse Analysis, (CDA).

Sayangnya, walau penelitian dengan CDA menjamur di mana-mana, masih banyak calon peneliti yang kebingungan menerjemahkan teori-teori wacana dalam praktik penelitian maupun analisis. Pelatihan CDA yang kami tawarkan di sini dimaksudkan untuk membantu peserta memahami landasan CDA, ragam metode CDA, dan penerapan teori-teori Kritis dalam analisis. Karena itu, kurikulum pelatihan ini disusun sedemikian rupa, guna memberikan landasan teoritis yang memadai sekaligus mempraktikkan CDA.

Materi tiap pertemuan:
1. General Introduction
- pengantar menuju metode kualitatif. Memperkenalkan tujuan, signifikansi, diikuti dengan penjelasan tentang teori-teori dasar yang melandasi CDA. Dalam sesi ini, peserta juga akan diajak untuk mencermati pemetaan CDA dan karakteristiknya masing-masing. Beberapa contoh terbaik penelitian CDA akan diperkenalkan.
2. Ragam Metode Kualitatif: Norman Fairclough
- Norman Fairclough adalah salah satu teorisi dan periset media yang merumuskan model CDA. Model CDA Fairclough termasuk yang paling populer, karena walau pun ringkas, namun mampu menyentuh banyak level analisis media. Seperti apa metode CDA Fairclough, bagaimana mengaplikasikan metode ini dalam penelitian, apa spesifikasi khusus CDA Fairclough yang membedakannya dengan metode CDA lainnya, itulah yang akan dibahas dalam sesi ini.
3. Ragam Metode Kualitatif: Sara Mills
- Sara Mills dikenal sebagai perumus model CDA berbasis gender. Pada perkembangan selanjutnya, model CDA Sara Mills akhirnya tidak cuma digunakan untuk menyentuh permasalahan berwajah 'feminis'--tetapi juga dalam penelitian di ranah-ranah lain yang berkaitan dengan ketimpangan dan ketidaksetaraan. Cari tahu lebih banyak tentang model CDA Sara Mills, serta bagaimana mengaplikasikannya dalam penelitian dalam sesi ini.
4. Ragam Metode Kualitatif: Teun A. van Dijk
- Model CDA Teun A. van Dijk termasuk yang paling banyak dipakai, juga yang paling banyak disalahkaprahkan. Kendati demikian, minat orang untuk mengaplikasikan model CDA Van Dijk tak pernah surut. Maklum, model CDA Van Dijk menyentuh banyak level analisis, dan tergolong sederhana namun cakupannya mendalam. Agar tidak terjebak dalam salah kaprah memahami Van Dijk dan teorinya, maka sesi ini mengangkat model CDA Van Dijk, spesifikasinya, serta evaluasi.
5. Latihan 1: Menerapkan CDA
6. Latihan 2: Menerapkan CDA
Di luar ketiga model CDA di atas, pelatihan ini menawarkan alternatif model CDA lainnya, seperti model analisis Ruth Wodak, Shoemaker-Reese, dll.

Instruktur:
Santi Indra Astuti (Dosen Fikom Unisba, Research Fellow LIPI, dan Research and Development Bandung School of Communication Studies).

Peserta pelatihan
Mahasiswa studi komunikasi, peminat kajian komunikasi, pers, LSM, dosen, dan lain-lain.

Waktu dan tempat
Pelatihan ini terdiri dari 6 kali pertemuan @ 2 x 60 menit.
Mulai tanggal 17,19,20, 24, 26,27 September 2007
Pk. 15.00 -17.00

Biaya Pendaftaran
Rp. 300.000 (termasuk workshop kit, sertifikat, dan snack buka puasa)

Tempat dan Pendaftaran Workshop
Tobucil & Klabs
Jl. Aceh No. 56 Bandung
Telp. 022 4261548


Acara ini diselenggarakan oleh
Bandung School of Communication Studies dan didukung oleh Tobucil & Klabs Comments are off for this post

Workshop Penulisan Bersama Farid Gaban

Menulis Feature dan Artikel untuk Media

  • Apa dan mengapa menulis media
  • Feature dan artikel yang dibutuhkan media
  • Jenis-jenis feature dan artikel
  • Menggali ide dan mengumpulkan bahan
  • Menulis ringkas, jelas dan bergaya
  • Membangun motivasi menulis
  • Metode Quantum Writing
  • Creative Non-Fiction (teknik penulisan non fiksi kreatif)
  • Jika otak buntu menulis

Workshop Intensif
  • Maksimal peserta 20 orang per kelas
  • Proyek akhir: peserta menulis karya jadi untuk dikirim ke media
  • Total waktu belajar dan latihan 12 jam
  • Waktu workshop 12 jam (2 hari)
  • Sabtu dan minggu, 15-16 September 2007, mulai Pk. 9.00 - 16.00
  • Biaya workshop Rp. 300.000
Tempat Workshop dan pendaftaran
Tobucil & Klabs
Jl. Aceh 56 Bandung
Telp. 022 4261548

Workshop ini terselenggara atas kerjasama:
Pena Indonesia, Aliansi Jurnalis Independen kota Bandung dan Tobucil & Klabs


Comments are off for this post

Qur’an Cover Merah Putih

Comments are off for this post

Next Page »