Archive for the 'catatan kegiatan' Category
Pemahaman Baru dari Ketidaktahuan

"... pernah, bikin kapal-kapalan waktu kecil"
Demikian ucap Wawa, salah seorang members yang ikut hadir pada acara buka bersama members KONUS, Sabtu (7/10) kemarin. Bertempat di ruang pertemuan members, Jl. Cikutra Baru II No.9 Wawa bersama sekitar dua puluh lima orang members lainnya aktif saling mengeluarkan opini serta pandangannya tentang origami setelah ditantang oleh penyampai materi. Dan setelah mendengar beragam opini serta pandangan tentang origami saat itu, sangat mudah ditebak. Ketika mendengar kata origami maka langsung terbayang suatu aktifitas seperti membuat kapal-kapalan, burung-burungan atau topi perang prajurit Jepang. Pun, terbayang pula kertas dengan warna-warnanya yang mencolok yang harus dibeli di toko buku atau supermarket sebagai medianya. Dan tak sedikit yang memandang origami sebagai aktifitas bagi mereka para murid sekolah yang selalu membawa bekal makanan di tasnya, taman kanak-kanak.
Maka termentahkanlah semua yang diucapkan saat itu ketika teman-teman dari Klab Origami Tobucil mengeluarkan beberapa model origami dengan ragam bentukan yang unik dan tampak nyaman di mata. Ada yang seperti butiran kuncup-kuncup bunga yang mekar yang berderet panjang membentuk spiral dengan komposisi warna yang pas. Atau kubus dengan permukaan yang tidak rata, seperti perpaduan antara dadu dan bola, juga dengan komposisi warna yang menarik. Juga lipatan yang tampak seperti bentukan kristal es dengan ragam warna dan kaya akan sudut-sudut yang indah, serta model yang lebih fungsional yang bisa digunakan sebagai frisbee.
Semua pasang mata yang ada di ruangan itu, sekejap langsung dibuat takjub tak berdaya. Terdecak kagum seakan tak percaya. Sebuah kejutan yang cukup berhasil untuk sejenak melupakan rasa lapar saat itu Apalagi ketika Nia, koordinator Klab Origami Tobucil, berucap bahwa semua model yang dibuat menggunakan kertas bekas majalah, poster dengan tanpa bantuan lem ataupun gunting. Terlebih setelah demo singkat dilakukan Nia sampai terciptanya sebuah kreasi origami dalam beberapa menit, para members seakan semakin terpacu untuk mencobanya. Terciptalah interaksi di sini disertai rasa keakraban yang kental.
Origami merupakan salah satu materi focus interest activity yang sedang coba dikembangkan di program membership KONUS. Kegiatan-kegiatan serupa dengan materi berbeda akan coba diupayakan untuk mengisi setiap pertemuan members, terutama yang sifatnya pertemuan rutin jangka pendek.
Dari apa yang dilihat, dengar dan rasakan saat itu, ada sebuah pengalaman bahkan pemahaman baru dari sesuatu yang sederhana, yang berawal dari suatu ketidaktahuan. Ya, origami yang bukan hanya sekedar seni melipat kertas, ada banyak nilai yang terkandung dari tiap bentukkan dan lipatannya. Dengan segala kandungan kekreatifan, kesabaran, keakraban serta apresiasi terhadap sesuatu yang pada awalnya dinilai tak berguna. Apalagi ketika tahu beberapa kandungan filosofis jika kita coba lihat dari runutan sejarahnya. Fantastic! (ery)
"Menuju keselarasan manusia dengan alam"
Konservasi Alam Nusantara
Jl. Cikutra Baru II No.9
Bandung 40124 Jawa Barat
t/f: +62 22 7200234
email: konusinfo@yahoo.co.id
www.konus.or.id Comments are off for this post
Belajar Menulis Artikel dan Feature bersama Mas Farid
Tobucil kedatangan tamu yang sudah lama saya idolakan: mas Farid Gaban. Pertama kali kenal mas Farid, lewat kolom Solilokui di harian Republika pada pertengahan th 90-an. Feature-featurenya yang melaporkan kekejaman perang Bosnia, begitu menyentuh dengan bahasa yang sederhana. Sekitar akhir Juli lalu, mas Farid dan teman saya Asep Syaifullah yang sama-sama mendirikan kantor Pena Indonesia itu, tiba-tiba muncul di tobucil. Saat itu saya seperti jumpa fans dengan tokoh idola saya. Dari obrolan bersama itu, tercetus ide untuk membuat pelatihan penulisan artikel dan feature di media massa dengan mas Farid sebagai instrukturnya. Ide itu saya sambut dengan antusias, menyenangkan bisa belajar menulis langsung dari ahlinya.
Ternyata peminatnya lumayan juga. Ada 15 orang yang terdaftar di pelatihan ini: Erick Sulaiman, Andika Budiman, Anggi Dewanggarani, Goestarmono, Tofan Rachmat Zaky, Dixi N. Husna, Arlin Widya Safitri, Mieke Juwono, Basilius Bengoteku, Titi Pudji, Ketut Indriani, Sri Haryati, Ifan Ismail, Nurul Wachdiyyah, Satyo Aji Karyadi.
Tips untuk para pemula dari mas Farid: untuk memulai kebiasaan menulis, tidak usah takut dengan kesalahan tata bahasa, tuliskan apa yang ada dipikiran anda dengan gaya bahasa lisan seperti anda bicara pada orang lain. Lama-lama anda bisa menstrukturkan apa yang ada dalam pikiran anda dan menemukan gaya tulisan anda sendiri. (t)
Tamu-tamu di Klab Puisi

Pertemuan klab puisi, Jumat, 31 Agustus 2007, tampak berbeda dari biasanya. Beberapa orang teman dari jauh tampak hadir memeriahkan suasana. Ada teman-teman dari Purwakarta dan juga Ketua AJI Kediri_Mas Dwijo dan ketua AJI Medan_ Deddy ikut bergabung dalam pertemuan Klab Puisi sore itu. Kunjungan kedua ketua AJI kota ini sebenarnya dalam rangka kunjungan ke AJI kota Bandung dan AJI Indonesia yang pada tgl 1 - 2 September 2007 ini menyelenggarakan Pelatihan Jurnalisme Sadar Konflik, di Bandung. Mas Dwijo dan Deddy, antusias bergabung di pertemuan klab puisi sore itu, mereka berbagi cerita tentang kondisi komunitas puisi dan sastra di kota masing-masing. Setelah acara sharing pengalaman, beberapa partisipan membacakan puisi karyanya masing-masing untuk di apresiasi bersama. Meski nampak beberapa orang sibuk menyimak pertemuan ini sambil berhotspot ria. (Foto & teks oleh tarlen) Comments are off for this post
Prof. Mikihiro Moriyama di Tobucil



Foto-foto diskusi tentang Daya Hidup Bahasa Sunda di Era Poskolonial, Prof. Mikihiro Moriyama bersama partisipan diskusi dalam suasana santai. Foto by tarlen
Hasil diskusi akan di update pada postingan berikutnya
Tulisan tentang Profil Mikihiro Moriyama di, Suplemen Kampus Pikiran Rakyat, 30 Agustus 2007
Mikihito Moriyama
Tetap Ingin Jaga Tradisi
"Walaupun saya nanti di rumah jompo, saya tidak akan merasa kesepian. Karena sepanjang hayat saya harus terus belajar."
SENYUM yang memperlihatkan sedikit susunan gigi yang rapi kerap mengembang. Cara bicaranya santun dengan logat bahasa Sunda yang fasih. Orang pun kerap terheran-heran dengan kemampuan dari kawan dosen yang lahir di Kyoto, Jepang, pada 16 September 1960 itu.
Dia, Mikihiro Moriyama, merupakan seorang profesor pada bidang kajian Indonesia di Departemen Asian, Fakultas Studi Luar Negeri, Universitas Nanzan, Jepang. Keahliannya pada kajian sastra dan budaya Sunda.
Tahun 2005, ia membuat kalangan budayawan dan intelektual lokal mulai banyak memperbincangkan dirinya. Sebuah disertasi yang disusun selama 13 tahun berubah menjadi buku yang banyak mengundang diskursus. Buku itu berjudul "Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad Ke-19" yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia.
"Saya hampir bosan menyusun buku itu," katanya bergurau.
Buku itu adalah buku ketujuh selama perjalanan hidup Miki. Buku tentang Sunda lainnya, misalnya, buku berjudul Sundanese Conversation (Sunda-go Kaiwa in Japanese). Selain tentang kesundaan, ia pun jatuh cinta pada karya seniman Putu Wijaya. Pada tahun 1998, mengalihbahasakan karya Putu berjudul Telegram ke bahasa Jepang.
Karya-karya itu tidak akan muncul jika cita-cita kecilnya menjadi pegawai di kantor swasta perdagangan atau menjadi diplomat diteruskan. Jika saja ia tidak bertemu budayawan Sunda, Ajip Rosidi, di salah satu kelasnya, mungkin Miki membuat karya lain.
Tinggal di kampung
Miki, pemuda desa dari Ayabe. Ayahnya adalah seorang pekerja kantor pemerintah. Ia menyebut pekerjaan di kantor pemerintahan sebagai pekerjaan yang statis dan tidak berkembang. Miki muda tidak ingin seperti itu. Ia ingin bekerja di kantor perdagangan swasta agar bisa naik pangkat.
Ia ingin keluar negeri, tetapi masih di kawasan Asia. Ia mencari negeri dengan pelajaran bahasa yang mudah dipahami. Lantas pilihan pun jatuh pada pengajaran bahasa Indonesia.
"Kawan-kawan di sana menyebut aneh. Kenapa saya pilih Indonesia?" tutur Miki.
Wajar pertanyaan itu muncul. Sejak Restorasi Meiji, Jepang sudah bercita-cita setara dengan negeri-negeri Barat dan ingin menjadi nomor satu di Asia. Oleh karena itu, banyak anak muda Jepang yang belajar ke Eropa dan Amerika Serikat. Jika ada pilihan yang tidak pada kedua wilayah itu, maka akan disebut aneh.
Namun, Miki tidak menggubris pendapat itu. Menurutnya, perjalanan ke negeri yang tidak pernah tersentuh seperti Indonesia merupakan tantangan. Tantangan itu akan membawa pada berkah pengetahuan dan pelajaran yang berlimpah. Untuk itu, ia masuk Department of Indonesian, Osaka University of Foreign Studies.
Tahun 1980, Miki pergi melihat negeri yang tak pernah dilihatnya. Modal uang 200 ribu yen hasil kerja sambilan sebagai pemandu wisata, satpam, pedagang buah di supermarket sampai guru privat.
"Tahun 1980-an, saya jalan-jalan sebulan ke Bali, Tana Toraja, Yogyakarta, sampai Bandung. Dan, saya hanya sendirian di pesawat Singapore Airlines menuju Indonesia," ujarnya mengenang.
Kembali ke Jepang, ia bertemu dengan Ajip Rosidi yang mengajar di salah satu kelasnya. Identitas Sunda yang melekat pada diri budayawan itu memberi inspirasi untuk mengenal tentang Sunda lebih dalam. Melalui dorongan (alm) Prof. Kenji Tsuchiya, ia memilih Universitas Padjadjaran (Unpad) sebagai awal membuka tabir budaya Sunda. Di kampus ini ia mendapat bimbingan dari tokoh Sunda ternama (alm) Edi S. Ekadjati.
"Saya melihat sosok Ajip Rosidi (budayawan Sunda). Integritasnya terhadap budaya Sunda memberi inspirasi kepada saya untuk mencari tahu lebih banyak tentang Sunda," ujar Miki pada Kampus saat berbincang di teras kamar penginapannya yang asri, Jumat (24/8),
Modal beasiswa Rp 75 ribu per bulan, ia manfaatkan benar. Kuliahnya dijalani seminggu sekali, Miki lebih banyak mencari seniman, budayawan, dan wartawan yang memahami budaya dan bahasa Sunda. Bahkan, ia rajin ikut rombongan tari jaipongan sampai ke pelosok Jawa Barat.
Tidak cukup bergaul di Kota Bandung, Miki memilih tinggal di kampung bernama Wanayasa, Purwakarta, Jawa Barat. Selama 6 bulan ia belajar bahasa Sunda, adat istiadat, sampai mengaji setelah magrib. Apakah pindah agama? Tidak, ia belajar untuk mengetahui budaya masyarakat lokal.
Dari Wanayasa, ia ke Cianjur sampai ke Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya. Dari sana ia bisa belajar menghayati kehidupan manusia dengan alam sekitarnya. Menghargai alam sebagai tempat hidup yang mesti dijaga keseimbangannya dan dijauhkan dari pengeksploitasian berlebihan. Hubungan manusia yang tidak berlandaskan kepentingan sesaat, tetapi corak kebersamaan dan toleransi sebagai individu untuk saling membantu.
Hal itu ia tidak dapatkan jika berada di kota besar. Antara kota dengan desa seperti dua negara yang berbeda. Kesederhanaan desa dengan glamor kota merupakan dua wilayah kontras yang kasat mata. Akan tetapi, ia tidak menyembunyikan bahwa kekuasaan uang pun larut di ibu kota kabupaten yang dekat dengan kota besar.
**
MIKI duduk tegap di kursi nomor dua dari belakang. Pembawaannya tenang, tetapi tidak lepas memandang tiap wajah anak-anak kelas V di SD Negeri Soka, Bandung, Jawa Barat. Senyumnya tak pernah lepas menghias wajahnya ketika anak-anak balas memerhatikannya.
Belakangan ini, dia sering datang ke sekolah-sekolah dasar dan menengah. Ia mengamati metode pengajaran bahasa Sunda di sekolah sekaligus mencari tahu bahasa pengantar anak-anak jika berada di rumahnya. Data-data ini untuk persiapan bukunya yang terbaru tentang bahasa Sunda.
Namun, ada hal lain yang ia perhatikan. Di Indonesia, anak-anak belajar ilmu pengetahuan seimbang dengan pengetahuan agamanya, terkhusus Islam. Hal yang berbeda di Jepang yang lebih mengutamakan ilmu pengetahuan dibanding agama.
Sains mengejar kebenaran, tetapi sebenarnya manusia tidak bisa mencapai kebenaran itu sendiri. Menurutnya, absolutisme kebenaran hanyalah milik pemilik jagat raya ini. Namun, tidak semua orang menyadari akan hal itu sebagaimana Miki alami sendiri di negeri lain.
Manusia, katanya, hanya bisa mendekati kebenaran itu sendiri. Manusia bisa menyadari hal ini ketika kebutuhan akan rohaninya terpenuhi. Keseimbangan antara kapasitas intelegensia dan spiritual mendorong manusia tidak ambisius, baik dalam hal materi atau apa pun. Keseimbangan akan mendatangkan kebahagiaan.
"Saya suka dengan orang Sunda di kampung karena mereka tidak ambisius. Mereka tidak menonjolkan diri mereka walaupun mereka memiliki kemampuan untuk tampil," tuturnya.
Di panti jompo
Ia mengaku, ilmu kesederhanaan dan perpaduan sains dengan agama yang ia peroleh selama penelitiannya memberi perubahan pada dirinya. Saat ini ia lebih sering bertanya bahwa dirinya terus bertanya tentang bagaimanakah manusia hidup?
Pertanyaan-pertanyaan itu lantas ia jawab dengan menekuni bidang akademis. Menurutnya, menjadi peneliti merupakan langkah untuk menjawab pertanyaan itu. Peneliti akan berjalan mendekati kebenaran dan terus mengujinya. Ruang pekerjaan akademis tidak akan terganggu oleh waktu usia menjelang tua. Walaupun nanti tinggal di panti jompo, proses menjawab pertanyaan tadi akan terus bergulir.
Sebagai akademisi, Miki tetap punya fokus yang ingin ia teruskan. Demi menjawab pertanyaan tentang makna kehidupan dirinya, eksistensinya dirasa berguna untuk mengulas tentang budaya literasi Sunda.
"Yang saya cari ilmu dan kebenaran. Dalam dua tahun, kenapa dagang tidak penting dan tidak menarik, saya ingin kembalikan apa yang saya telah peroleh dari masyarakat Sunda," katanya.
Lantas, apakah Miki mau menjadi warga negara Indonesia? "Tidak," jawabnya.
Pasalnya, sebagai anak sulung Miki punya tanggung jawab terhadap warisan nenek moyang di desanya, seperti sawah, hutan, dan makam. Termasuk tanggung jawab sebagai warga desa untuk membantu membersihkan desa setiap bulan.
Miki tetap memegang paspor Jepang, tetapi bukan berarti kehidupannya terbatas di satu tempat. Ia masih ingin berkelana untuk menjawab pertanyaannya. Hal yang bisa membawanya diam di tempat adalah tugasnya sebagai pemegang nilai tradisi nenek moyangnya.***
agus rakasiwi
kampus_pr@yahoo.com
Madrasah Falsafah Agustus: Dari Anak Perempuan Bapak sampai Hidup Normal
Pertemuan madrasah falsafah, setiap rabu rupanya tak pernah sepi peminat. Partisipannya pun beragam. Mulai dari mahasiswa, dosen, wartawan, pengangguran, pensiunan, guru. Tanggal 29 Agustus 2007 lalu, tema yang dibahas adalah 'Hidup Normal'. Seru karena ternyata batas antara normal dan tidak normal sangat tergantung darimana memandanganya. Di madrasah falsafah, semua partisipan bisa berbagi pengalaman hidupnya dan saling menarik pelajaran satu sama lain.


Sementara tema di minggu sebelumnya, 22 Agustus 2007, membahas hubungan 'Anak Perempuan dan Bapaknya'. Ada tiga orang bapak dari latar belakang yang berbeda hadir pada pertemuan kali ini: Pak Ismail, single parent yang membesarkan 3 orang anak perempuannya, punya hubungan khusus dengan anak-anaknya, sangat dekat bisa menjadi orang tua sekaligus sahabat; Pak Erik, bapak asal Amerika yang sudah lama tinggal di Bandung, punya anak perempuan berusia 17 tahun, hal yang menarik yang dia katakan di akhir pertemuan adalah: "Buat kalian anak perempuan, jangan segan untuk mengatakan apa yang kalian inginkan dari ayah kalian, karena sering kali mereka tidak tau apa yang kalian inginkan dari mereka." Sementara Pak Amrizal Salaya, seorang pematung mengaku terus terang, bahwa ia sering kali tidak tau bagaimana semestinya mengahadapi anak perempuannya. Baginya anak perempuannya seperti patung porselen, ia takut menghancurkannya.
Forum yang jarang terjadi, dimana para bapak-bapak ini bisa berterus terang tentang apa yang mereka rasakan dari hubungannya dengan anak-anak perempuan mereka, juga para partisipan yang sebagian adalah anak-anak perempuan bisa mengungkapkan harapan mereka dari seorang bapak.
Comments are off for this post
Pertemuan Pertama Madrasah Falsafah
Pertemuan Madrasah Falsafah, 16 Juli 2007. Pic: dok tobucil
Pertemuan setiap Rabu, Pk. 17.00 -20.00
Pertemuan pertama madrasah falsafah diwarnai dengan tawa canda dan senda gurau. Jangan bayangkan kening yang berkerut dan jangan jadi ngeper juga karena di pertemuan ini ga akan ditanya berapa banyak buku filsafat yang sudah pernah di baca.
Pada pertemuan pertemuan pertama ini yang dibahas tentang 'Nama'. Ternyata banyak juga diantara partisipan yang hadir bermasalah dengan nama. Jika Shakesphere bilang 'apa arti sebuah nama', ternyata bagi banyak orang nama membentuk banyak hal dalam dirinya..
Dipertemuan kedua madrasah falsafah membahas tentang 'Rumah' dan dipertemuan ketiga membahas tentang 'Hati'.
‘Jangan Mau Jadi Korban Iklan..!’, Workshop Pertama di Tobucil Baru

Pic: dok tobucil
Bulan Juli lalu, di tengah-tengah kehebohan beres-beres tempat baru, teman-teman Bandung School of Communication Studies (BASCOMMS), mengadakan workshop Bedah Iklan Secara Kritis: 'Jangan Mau Jadi korban Iklan..!'. Workshop ini diselenggarakan dalam rangka rangkaian peringatan Hari Tanpa TV (HTT) yang diselenggarakan tgl 22 Juli 2007 lalu.
Bagi tobucil, acara ini sekaligus testcase tempat baru, bisa muat berapa orang ya maksimal? Ternyata terasnya tobucil itu bisa muat sampai 30 orang. Jadi teman-teman yang mau bikin workshop di tobucil bisa loh..
Tentang acara HTTnya sendiri bisa dilihat di: www.litarasimedia.wordpress.com Comments are off for this post
Syukuran Tobucil Baru
Agus Rakasiwi (ketua AJIB) dan saya memberi sambutan sebelum acara syukuran di mulaifoto oleh bram
Foto-foto syukuran dapat di lihat di phot album:
http://tobucil.multiply.com
***
21 Juli lalu, tobucil & klabs mengadakan syukuran kecil untuk tempat barunya di jalan Aceh 56 Bandung. Selain syukuran ini juga sekaligus peresmian sekretariat Aliansi Jurnalis Independen Kota Bandung yang sejak awal berdiri punya keterkaitan sejarah dengan keberadaan tobucil. Meskipun sederhana, syukuran kemarin terasa akrab dan hangat. Banyak teman-teman hadir untuk ikut berhagia bagi tobucil & klabs, meski banyak pula yang tidak dapat hadir karena waktunya bentrok
dengan aktivitas lain.
Terima kasih untuk semua teman-teman yang telah hadir (yang tak bisa disebutkan satu persatu). Terima kasih atas dukungan dan supportnya pada tobucil. Yang cukup membuat saya terkejut adalah kehadiran mas Farid Gaban, jurnalis idola saya yang hadir sehari setelah syukuran tobucil bersama rekan saya Asep Syaefulah dari Pena Indonesia. Rasanya seperti kopi darat setelah mengudara bertahun-tahun. Selama ini saya dan mas Farid berkomunikasi hanya lewat email. Kehadiran mas Farid juga sekalian untuk membuka kerjasama Pena Indonesia, AJIB dan tobucil untuk membuat sekolah jurnalistik dan penulisan di Bandung. (tarlen) Comments are off for this post













